Langsung ke konten utama

“Perjuangan Menyelesaikan Skripsi”


Di sebuah ruangan kecil, terdapat dua sosok yang sedang tengah berdebat dengan intensitas tinggi. Suasana tegang terasa di udara, di mana ucapan-ucapan yang dilontarkan terkesan penuh kekecewaan dan frustrasi.


"Sudahlah, ini latar belakangnya tidak sesuai, Astagfirullah!" ucap mahasiswa dengan raut wajah penuh kekecewaan.


"Pak, tolong, mari kita fokus. Rumusan masalahnya masih belum jelas, semuanya terasa ngacau," sahutnya sambil meremas-remas kertas di tangannya.


"Allahu akbar, mengapa semua ini harus terjadi? Ini membuat semuanya salah," desis mahasiswa dengan nada kesal.


"Kamu, tidak boleh menyerah. Ingatlah, Lailahaillallah. Kita harus terus berusaha," dorongnya dengan nada penuh semangat.


"Udahlah, Pak. Anda tidak perlu terus-terusan menegur saya. Saya akan mencoba yang terbaik," sahut mahasiswa dengan rasa putus asa.


"Pak, mohon pengertian dan kesabaran. Saya masih butuh bimbingan, bukan celaan," tambahnya lagi dengan nada lembut namun penuh harap.


"Bapak, Anda seakan-akan tidak pernah memahami. Setiap perkataan yang Anda ucapkan terasa menyakitkan," ungkapnya dengan hati yang hancur.


"Bapak, bukankah Anda juga manusia? Mengapa begitu keras pada saya?" tanyanya dengan nada sedih.


"Emang semua yang saya lakukan salah? Saya hanya ingin kamu berhasil, tidakkah kamu mengerti?" balasnya dengan nada penyesalan.


"Ya Allah, bagaimana ini? Apakah saya akan bisa lulus?" renung mahasiswa dengan rasa sedih yang mendalam.


"Bapak, tolonglah. Jangan gunakan kelulusan saya sebagai senjata. Saya butuh dukungan, bukan hukuman," pintanya dengan nada penuh keputusasaan.


"Kamu harus sadar, bahwa salat adalah kunci keberhasilan. Kamu harus memperbaiki dirimu terlebih dahulu sebelum semuanya bisa berjalan lancar," tegurnya dengan penuh kesungguhan.


"Sudahlah, Pak. Saya hanya ingin membuat orang tua saya bangga. Itu saja yang saya inginkan," sahut mahasiswa dengan suara yang hampir tercekik oleh air mata.


"Oh, jadi kamu mau saya setujui padahal masih banyak yang harus diperbaiki?" tanya dosen pembimbing dengan rasa heran.


"Tidak apa-apa, Pak. Tapi, tolong jangan biarkan saya kecewa di akhir perjalanan ini," pintanya dengan rasa harap yang masih tersisa.


"Semoga saja nanti di ujian, penguji tidak memberikan kritik yang berat," tambahnya dengan nada berharap.


"Sebenarnya, kita tidak perlu melalui semua ini, Pak. Ada cara yang lebih baik," ungkap mahasiswa dengan rasa penyesalan.


"Sudahlah, mari kita perbaiki bersama-sama. Kita harus memastikan semuanya benar-benar sesuai," ajak dosen pembimbing dengan penuh semangat.


"Demi Allah, saya bertobat. Semoga semuanya berjalan dengan lancar," doanya dengan penuh harap.


Dalam perjuangan menyelesaikan skripsi, mahasiswa dan dosen pembimbingnya saling melengkapi. Meskipun penuh dengan kesalahan dan hambatan, mereka tetap berusaha untuk menghadapinya dengan penuh semangat dan harapan. Semoga semua itu tidak menjadi sia-sia, dan akhirnya skripsi mereka bisa terselesaikan dengan sukses. (fzr)


Komentar