Langsung ke konten utama

Memahami Ancaman Gula: “Seberapa Bahaya Gula Sebenarnya?"


Cokelat, siapa yang tidak menyukainya? Makanan bergula ini rasanya manis dan dapat membuat hati menjadi riang. Namun, kita sering mendengar tentang penyakit yang mengintai tubuh, seperti diabetes. Seberapa bahaya sebenarnya gula? Apakah lebih berbahaya daripada rokok? Makanan yang tinggi gula dapat memberikan energi instan, tetapi efeknya cepat hilang. Kelebihan konsumsi gula dalam jangka panjang dapat menyebabkan kegelisahan dan kecemasan, dan mengharuskan kita mengeluarkan uang untuk pengobatan.

Selain itu, kebanyakan gula juga berpotensi merusak mata, kemampuan berpikir, bahkan dapat berhubungan dengan depresi. Meskipun demikian, mengapa kita sulit melepaskan diri dari gula? Gula memiliki daya tarik yang kuat karena hadirnya hormon-hormon bahagia dalam otak yang membuat kita sulit menolaknya. Namun, sebenarnya kita bisa hidup tanpa mengonsumsi makanan yang terlalu manis.

Tubuh memang membutuhkan gula sebagai sumber energi, dan kita cenderung menyukai makanan manis karena pada masa lampau makanan tersebut jarang ditemui. Meskipun gula dan rokok sama-sama dapat menyebabkan penyakit, tubuh manusia tidak memerlukan zat adiktif yang terkandung dalam rokok. Selain itu, ketersediaan makanan dan minuman yang tinggi gula mudah ditemui dengan harga yang terjangkau, serta belum adanya peraturan yang mengatur batas kandungan gula dalam makanan dan minuman yang dijual.


Di sisi lain, jumlah penderita diabetes di Indonesia terus meningkat, terutama pada anak-anak. Hal ini memicu pertanyaan tentang bagaimana cara mengatasi masalah ini. Beberapa negara telah menyadari pentingnya mengatur peredaran makanan yang tinggi gula agar warganya tetap sehat. Misalnya, negara-negara tersebut memberlakukan aturan terkait ranking makanan manis yang dijual di restoran serta mengurangi konsumsi minuman yang tinggi kandungan gulanya.


Selain itu, beberapa negara menerapkan pajak untuk makanan bergula. Di Indonesia, rencananya juga akan diterapkan kebijakan serupa. Harapannya, dengan memberi label peringatan, pembatasan iklan, dan melarang penjualan makanan dan minuman manis di lingkungan sekolah, angka penyakit akibat gula dapat ditekan. Sekarang, penting bagi kita untuk memperhatikan kandungan gula dalam makanan yang kita konsumsi. Dokter menyarankan agar orang dewasa mengonsumsi gula maksimal 4 sendok makan dalam sehari, agar kita tetap dapat menikmati manisnya kehidupan tanpa mengorbankan kesehatan. (fzr)


Komentar